Inspirasi Tiada Tara

Kamis, 01 Maret 2012

Vacum

Udah lama ga update artikel :D
jadi kangen :p maap  kemarin saya ga ada update artikel lagi dikarenakan sibuk ujian UN praktek :D
alhamdulillah UN nya berjan dengan lancar. walau pun ada sedikit kesalahan waktu itu namun untung ada teman saya yang bernama amek membantu saya dalam pengerjaan nya , Terima kasih amek
terima kasi ya ALLAH :)
inaezz Teman
inaezz Teman

Tasbih bagi Pencerahan Jiwa Kehidupan

Tasbih bagi Pencerahan Jiwa Kehidupan


Tasbih secara umum dimaknakan dengan tanzīh (mensucikan), yakni mensucikan Allah; bahwa Allah Maha Suci dari segala apa yang dituduhkan oleh orang-orang musyrik; tidak ada sekutu bagi Allah dan Ia tidak berhajat kepada siapa pun. Dalam pengertian yang biasa, bertasbih artinya membaca SubhānAllāh.

Para malaikat disebutkan dalam Qur’an bertasbih dengan memuji Allah (al-Baqarah: 30). Demikian juga Nabi Muhammad, ketika merasakan beratnya beban tugas dakwah, beliau disuruh bertasbih oleh Allah dengan memuji-Nya (al-Hijr: 97-98). Nabi bahkan disuruh bersabar atas berbagai ucapan kaumnya yang menyakitkan hati beliau, dan diperintahkan untuk bertasbih dengan memuji Tuhan sebelum terbit dan sebelum terbenam matahari, juga di waktu malam dan siang (Thaha: 130).

Langit dan bumi serta segala isinya, baik mereka bisa berbicara atau tidak, semuanya bertasbih kepada Allah. Pepohonan dan bebatuan, gunung-gunung dan samudra luas, semuanya bertasbih kepada Allah. Burung-burung yang terbang di angkasa, binatang-binatang liar yang ada d hutan, air yang mengalir di sungai-sungai, semuanya bertasbih kepada Allah. Mereka bertasbih dengan bahasa dan cara masing-masing. "Tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka" (al-Isra’: 44). Kamu tidak dapat memahaminya karena terbalut dengan dinding jasmaniahmu yang berasal dari tanah; kamu tidak berusaha mendengarkan dan memahaminya dengan hati dan kesadaran batinmu, sehingga segala rahasia ciptaan Tuhan itu terlihat tidak lebih dari permainan materi yang tidak bermakna. Kamu tidak membangkitkan “sinyal” hatimu untuk menembusi dinding-dinding jasadmu dan terkoneksi dengan alam rahasia Tuhan yang penuh keajaiban. Kamu hanya bergerak dalam lingkar jasmani yang terbatas.

Tasbihnya alam – sekurang-kurang yang dapat kita pahami – adalah berupa fenomena alam yang menakjubkan. Pada setiap mili dan zarrah dari alam ini, dan pada setiap nafas kehidupan terdapat tanda keagungan dan kekuasaan Allah. Tasbihnya alam juga dapat dilihat pada ketundukan dan kepatuhannya terhadap hukum Allah yang telah didesain untuk mereka. Air yang mengalir, angin yang berhembus, detak jantung makhluk hidup, air yang membeku pada nol derajat, sampai pada perputaran planit-planit, semuanya menunjukkan kepada adanya sebuah desain yang maha rapi dan maha sophisticated, yang tidak lain adalah iradah Sang Pencipta Maha Karya yang Maha Kuasa. Alam semesta tunduk dan patuh pada-Nya tanpa celah untuk bertanya, dan bergerak tanpa henti dalam sebuah irama yang rapi dan serasi.

Jadilah tasbih itu sebuah tanda kesucian Tuhan dan jadilah tahmid itu sebuah jalan bagi manusia untuk mensucikan Tuhan. Maka Ia pun berfirman: “Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi” (al-Mukmin: 55). Kita memuji Tuhan bukan hanya karena keagungan-Nya yang dapat kita lihat dan rasakan di mana-mana, tetapi juga karena anugerah dan pemberian-Nya yang melimpah tiada terkira; juga karena ampunan dan kasih sayang-Nya yang tiada tara.

Tasbih harus menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita.
Kita harus mensucikan Tuhan dengan segenap jiwa dan raga. Tasbih tidak boleh hanya sekedar ucapan lisan, tetapi harus mengalir bersama ekspresi diri kita dalam setiap tutur kata, perilaku, aktivitas dan seluruh amal perbuatan. Tasbih harus mencerminkan fenomena keilahian pada diri manusia; manusia sendiri harus menjadi bagian dari tanda kebesaran dan keagungan Allah. Sebab, tasbih adalah pengakuan akan Maha Sucinya Tuhan. Kita harus memulainya dengan berusaha membersihkan diri dan mensucikan diri (bukan dalam pengertian sombong, menganggap diri sendiri paling suci) dengan wudhu’ dan mandi, dengan kemuliaan akhlak dan ikhlas, dengan berbagai amal yang diridhai Allah, sampai pada kesucian tauhid dan menghilangkan seluruh bentuk penyakit hati dalam diri kita (seperti dengki, sombong, ingin dipuji, riya’ dan mendahulukan dunia di atas kecintaan kita kepada Allah).

Tasbih yang kita ucapkan dengan lidah harus menjadi obat yang mengalir sampai ke hati dan berdampak pada seluruh sikap hidup kita. Maha Suci Allah dan segala Puji bagi-Nya










http://mrizalismail.blogspot.com

PENCERAHAN

Rwa Bhineda

PENCERAHAN
Dalam kesendirian, keheningan seperti ini, ketergantungan kita
hilang. Kemampuan kita untuk mencintai akan muncul. Seseorang tidak
akan lagi memandang sesamanya sebagai alat untuk memuaskan
kecanduannya. Hanya orang yang pernah mencoba usaha ini mengetahui
betapa mengerikannya proses yang harus dijalani. Prosesnya seperti
mengundang diri Anda sendiri untuk mati. Prosesnya seperti meminta
orang malang yang mengalami kecanduan obat bius untuk melepaskan satu-
satunya cara yang diketahuinya untuk memperoleh kebahagiaan.
Dapatkah Anda bayangkan dalam hidup Anda untuk menolak untuk
menikmati atau merasakan enaknya kata pujian atau meletakan kepala
Anda di bahu seseorang untuk mendapatkan dukungan? Pikirkan suatu
kehidupan dimana Anda tidak tergantung secara emosional kepada
siapapun, sehingga tidak ada lagi orang yang mempunyai kekuasaan
untuk membuat hidup Anda bahagia atau membuat Anda menderita. Anda
menolak untuk membutuhkan orang khusus tertentu atau menjadi orang
istimewa bagi seseorang yang Anda anggap milik Anda. Burung di udara
mempunyai sarang dan rubah mempunyai lubang, tetapi Anda tidak
mempunyai tempat beristirahat untuk meletakan kepala Anda dalam
perjalanan hidup ini. Bila Anda berada dalam keadan itu, pada
akhirnya Anda akan tahu apa artinya memandang dengan visi yang jernih
dan tidak tertutup oleh ketakutan dan keinginan. Setiap kata
dimengerti apa adanya. Pada akhirnya melihat dengan visi yang jernih
dan tidak tertutup oleh keinginan. Anda akan mengetahui artinya
cinta. Tetapi untuk dapat sampai ke daerah tempat cinta, Anda harus
melewati padang kematian. Untuk dapat mencintai sesama, kebutuhan
Anda akan sesama harus mati dan Anda benar- benar sendiri.
Bagaimana Anda dapat sampai ke tempat itu? Dengan terus menerus
berusaha untuk sadar, dengan kesabaran dan kesetiaan tanpa batas
seperti yang Anda berikan kepada kecanduan Anda akan obat bius. Denga
mengembangkan selera kepada hal – hal yang baik dalam hidup untuk
mengimbangi kebutuhan Anda yang sangat kuat akan obat bius.
Mula – mulanya nampaknya hal ini seperti tidak tertahankan. Tetapi
hal ini hanya disebabkan Anda tidak terbiasa pada kesendirian. Bila
Anda berusaha untuk bertahan selam beberapa waktu, gurun itu aka
tiba – tiba merekah menjaadi cinta. Hati Anda akan meluap dipenuhi
nyanyian. Dan musin semi akan berlangsung selamanya, obat bius itu
akan menjauh ; Anda akan bebas. Sesudah itu Anda akan mengerti arti
kebebasan, arti cinta, arti kebahagiaan, arti realitas, arti
kebenaran, arti Tuhan. Anda akan melihat, Anda akan melihat sesuatu
yang ada di luar jangkauan konsep dan pembiasaan yang sudah Anda
alami, kecanduan dan keterikatan. Apakah semua ini masuk akal bagi
Anda?
Biarkan saya mengakhiri pembicaran ini dengan suatu cerita yang
indah. Ada seorang yang menemukan bagaimana cara untuk membuat api.
Dia membawa peralatannya dan berangkat ke tempat tinggal suku di
daerah utara yang sangat dingin, dingin yang menggigit. Dia
mengajarkan kepada orang – orang di sana untuk membuat api. Orang -
orang itu sangat tertarik.Dia mengajarkan mereka bagaimana
menggunakan api, mereka dapat memasak, mereka dapat menghangatkan
tubuh mereka, dan lain-lain. Mereka sangat berterima kasih bahwa
mereka sudah belajar seni untuk membuat api. Tetapi sebelum mereka
sempat mengungkapkan rasa terima kasih merreka kepada orang itu,
orang tu menghilang. Dia tidak peduli dengan pengakuan atau rasa
terima kasih ; dia hanya pedui dengan kesejahteraan orang – orang.
Dia pergi ke suku lain dan mulai menunjukan kepada mereka arti
penemuannya. Orang-orang di sana juga tertarik, tetapi terlalu
tertarik menurut pendapat pendeta-pendeta yang ada di sana, yang
mengamati bahwa orang itu menarik sangat banyak orang untuk
mendekatinya sehingga pendeta-pendeta itu kehilangan popularitas.
Karena itu mereka memutuskan untuk menyingkirkan orang itu. Mereka
meracuni orang itu, menyalibkannya, atau apa saja cara yang menurut
Anda dapat dilakukan. Tetapi kemudian mereka takut menghadapi orang -
orang yang mungkin akan memberontak terhadap mereka, sehingga mereka
mengambil tindakan yang bijaksana atau bahkan cerdik cenderung licik.
Tahukah Anda apa yang mereka lakukan? Mereka membuat potret orang itu
dan memasangnya ditempat yang tinggi di altar utama kuil mereka. Alat-
alat untuk membuat api diletakan di depan potret orang itu, dan orang-
orang diajarkan cara untuk memuja potret itu dan memberi penghormatan
kepada alat untuk membuat api itu, dan hal ini berlangsung terus,
tetapi tidak ada api yang dibuat lagi.
Dimanakah api itu ? Dimanakah cinta ? Dimanakah obat bius yang sudah
tercabut dari sistem yang Anda miliki ? Dimanakah kebebasan ? Semua
itulah yang dibahas dalam spiritualitas. Tragisnya kita cenderung
kurang memperhatikan hal itu, bukan ? Semua itulah yang dibicarakan
Yesus Kristus. Tetapi tidakkah kita lebih menekankan penghormatan
dengan menyebutnya, “Guru, Guru” ? Dimanakah api itu ? Dan bila
pemujaan tidak mengarahkan kita ke pada api, bila penghormatan tidak
mengarahkan kita kepada cinta, bila liturgi tidak mengarahkan kita
kepada pandangan yang lebih jelas mengenai realitas, bila Tuhan tidak
mengarahkan kita kepada kehidupan, apakah gunanya agama kecuali
menimbulkan lebih banyak pengelompokan, lebih banyak fanatisme, lebih
banyak pertentangan? Semua itu terjadi bukan karena kurangnya agama
dalam arti kata yang paling sederhana bahwa dunia sedang menderita,
hal ini terjadi karena kurangnya cinta, kurangnya kesadaran. Dan
cinta memancar dari kesadaran kita dan tidak ada cara lain, tidak ada
cara lain. Pahami hambatan-hambatan yang Anda letakan di jalan menuju
cinta, kebebasan, dan kebahagiaan, dan hambatan-hambatan itu akan
lepas. Nyalakan cahaya kesadaran dan kegelapan akan sirna.
Kebahagiaan bukan sesuatu yang Anda peroleh ; cinta bukan sesuatu
yang Anda buat ; cinta bukan sesuatu yang Anda miliki, cinta adalah
sesuatu yang memiliki Anda. Anda tidak memiliki angin, bintang -
bintang, dan hujan. Anda tidak memiliki hal – hal itu ; Anda menyerah
pasrah kepada hal – hal itu. Dan kepasrahan terjadi saat Anda
menyadari ilusi Anda, pada saat Anda menyadari kecanduan Anda, pada
saat Anda menyadari keinginan dan ketakutan Anda.
Ah, begitu banyak waktu disediakan untuk memuja, untuk menyanyikan
puji-pujian, dan menyanyikan lagu – lagu yang kan lebih banyak
membuahkan hasil jika disertai pengertian mengenai diri kita sendiri.
Kita harus selalu waspada dalam melakukan pemujaan yang hanya
merupakan gangguan terhadap usaha yang terpenting dalam hidup ini.
Hidup berarti melepaskan diri dari semua hambatan dan hidup pada saat
ini dengan penuh kesegaran. “Burung-burung di udara … mereka tidak
memintal dan juga tidak menenun” – itulah hidup. Saya mulai dengan
mengatakan bahwa orang-orang `tertidur’, `mati’.Orang `mati’
menjalankan pemerintahan, orang `mati’ menyelenggarakan usaha besar,
orang `mati’ mendidik orang lain ; bangkitlah
dari `mati’, `hiduplah’! Pemujaan harus membantu usaha untuk bangkit
dari `mati’ ini, jika tidak maka tidak ada gunanya. Dan semakin Anda
mengetahui hal ini dan demikian juga saya, semakin banyak kita
kehilangan orang-orang muda dimana-mana. Mereka membenci kita ;
mereka tidak tertarik untuk memahami lebih banyak ketakutan dan
perasaan bersalah dibebankan kepada mereka. Mereka tidak tertarik
untuk mendengarkan lebih banyak kotbah dan nasehat. Tetapi mereka
tertarik untuk belajar tentang cinta. Bagaimana saya dapat bahagia?
Bagaimana saya dapat hidup? Bagaimana saya dapat mencicipi hal-hal
yang luar biasa yang diungkapkan oleh para mistik?
Suatu hari saya akan menulis buku dengan judul “Saya seorang keledai
dan Anda seorang keledai”. Buku itu akan menjadi sesuatu yang sangat
melegakan dunia ini, pada saat Anda secara terbuka mengakui bahwa
Anda seekor keledai. Merupakan hal yang luar biasa bila orang
mengatakan kepada saya, “Anda salah”. Saya berkata, “Apa yang dapat
Anda harapkan dari seekor keledai?”
Pelucutan senjata, setiap orang harus melucuti senjatanya. Dalam
pembebasan yang terdalam, saya seekor keledai, Anda seekor keledai.
Yang biasanya terjadi adalah saya menekan tombol Anda naik, saya
menekan tombol lain, Anda turun. Dan Anda menyukai hal itu. Berapa
orang yang Anda kenal yang tidak terpengaruh pujian atau kritik? Kita
menganggap hal itu tidak manusiawi. Manusiawi diartikan sebagai
kenyataan bahwa Anda harus seperti monyet kecil, sehingga setiap orang dapat
memutar ekor Anda, dan Anda melakukan hal-hal yang sepantasnya Anda lakukan

Makna dari Sebuah Amanah



dakwatuna.com – “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (QS Al-Anfaal 27).

Ayat ini mengaitkan orang-orang beriman dengan amanah atau larangan berkhianat. Bahwa di antara indikator keimanan seseorang adalah sejauh mana dia mampu melaksanakan amanah. Demikian pula sebaliknya bahwa ciri khas orang munafik adalah khianat dan melalaikan amanah-amanahnya. Amanah, dari satu sisi dapat diartikan dengan tugas, dan dari sisi lain diartikan kredibilitas dalam menunaikan tugas. Sehingga amanah sering dihubungkan dengan kekuatan. Firman Allah:

“Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS Al-Qhashash 27)

Imam Syahid Hasan Al-Banna berkata: ”Oleh karena itu wahai ikhwan kuatkanlah keimanan dan ruhiyah kalian, kuatkanlah ilmu dan tsaqafah kalian serta kuatkanlah fisik dan segala sarana yang dapat digunakan untuk memikul amanah. Dan Allah memerintahkan kepada kita untuk mempersiapkan segala bentuk kekuatan”.

Hidup ini tidak lain dari sebuah safari atau perjalanan panjang dalam melaksanakan amanah dari Allah. Dalam hidupnya manusia dibatasi oleh empat dimensi, bumi tempat beramal, waktu atau umur sebagai sebuah kesempatan beramal, nilai Islam yang menjadi landasan amal dan potensi diri sebagai modal beramal. Maka orang yang bijak adalah orang yang senantiasa mengukur keterbatasan-keterbatasan dirinya untuk sebuah produktivitas yang tinggi dan hasil yang membahagiakan. Orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang senantiasa sadar bahwa detik-detik hidupnya adalah karya dan amal shalih. Kehidupannya di dunia sangat terbatas sehingga tidak menyia-nyiakannya untuk hal-hal yang sepele, remeh apalagi perbuatan yang dibenci (makruh) dan haram.

Amanah pertama yang harus dilakukan adalah Amanah Fitrah manusia, dimana makhluk lain enggan dan menolak menerimanya. Ia adalah amanah hidayah, ma’rifah dan iman kepada Allah atas dasar niat, kemauan, usaha dan orientasi. Amanah berikutnya adalah Amanah Syahadah (Kesaksian). Pertama, berupa kesaksian diri agar menjadi cermin bagi agamanya. Kedua, berupa kesaksian dakwah agar menyampaikan agama kepada manusia. Ketiga, berupa kesaksian agar menerapkan manhaj dan syariah Islam di bumi Allah.

Dan amanah itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Pertanyaan akan ditujukan atas amanah yang dibebankan kepada kita. Barangsiapa yang menunaikan amanah sekecil apapun, niscaya akan dilihat Allah. Dan barangsiapa yang melalaikan amanah sekecil apapun niscaya akan dilihat. Manusia tidak akan dapat lari dari tanggungjawab itu. Karena tempat yang ditinggali adalah bumi Allah, umur yang dimiliki adalah ketentuan Allah, potensi yang ada adalah anugerah Allah dan nilai Islam adalah tolok ukur dari pelaksanaan amanah tersebut. Kemudian mereka akan datang menghadap Allah.

Oleh karena itu sekecil apapun amanah yang dilaksanakan, maka memiliki dampak positif berupa kebaikan. Dan sekecil apapun amanah yang disia-siakan, niscaya memiliki dampak negatif berupa keburukan. Dampak itu bukan hanya mengenai dirinya tetapi juga mengenai umat manusia secara umum. Seorang mukmin yang bekerja mencari nafkah dengan cara yang halal dan baik, maka akan memberikan dampak positif berupa ketenangan jiwa dan kebahagiaan bagi keluarganya. Lebih dari itu dia mampu memberi sedekah dan infak kepada yang membutuhkan. Sebaliknya seorang yang menganggur dan malas akan menimbulkan dampak negatif berupa keburukan, terlantarnya keluarga, kekisruhan, keributan dan beban bagi orang lain.

Kesalahan kecil dalam menunaikan amanah akan menimbulkan bahaya yang fatal. Bukankah terjadinya kecelakaan mobil ditabrak kereta, disebabkan hanya karena sopirnya lengah atau sang penjaga pintu rel kereta tidak menutupnya? Bahaya yang lebih fatal lagi jika amanah dakwah tidak dilaksanakan, maka yang terjadi adalah merebaknya kemaksiatan, kematian hati, kerusakan moral dan tatanan sosial serta kepemimpinan di pegang oleh orang yang bodoh dan zhalim.

Perjalanan dakwah telah menorehkan pengalamannya betapa kesalahan dalam melaksanakan amanah mengakibatkan kerugian dan musibah. Pada saat perang Uhud, Rasulullah saw. memerintahkan satu pasukan pemanah untuk tetap berjaga di bukit Uhud dan tidak meninggalkan pos itu. Tetapi, ketika pasukan perang umat Islam sudah di ambang kemenangan, dan sebagian yang lain bersorak sambil memunguti rampasan perang, maka pasukan pemanah pun tergoda dan ikut-ikutan mengambil rampasan perang itu. Akhirnya pasukan kafir berhasil memukul mundur pasukan umat Islam, dan rampasan perang pun raib dari tangan mereka. Lebih tragis dari itu adalah darah segar berceceran dari muka Rasulullah saw, akibat amanah yang dilalaikan.

Harta, wanita dan kekuasaan memang merupakan sarana yang paling ampuh digunakan syetan untuk menggoda orang beriman agar melalaikan amanah, bahkan meninggalkannya sama sekali. Betapa sebagian dai yang ketika tidak memiliki sarana harta yang cukup dan tidak ada kekuasaan yang disandangnya, begitu istiqamah menjalankan amanah dakwah. Tetapi setelah dakwah sudah menghasilkan harta dan kekuasaan, amanah dakwah itu ditinggalkan dan bahkan berhenti dari jalan dakwah dan futur dalam barisan jamaah dakwah!

Oleh karena itu waspadalah terhadap harta, wanita dan kekuasaan! Itu semua hanya sarana untuk melaksanakan amanah dan jangan sampai menimbulkan fitnah yang berakibat pada melalaikan amanah. Dibalik dari menunaikan amanah terkadang ada bunga-bunga yang mengiringinya, harta yang menggiurkan, wanita yang menggoda sehingga orang yang beriman harus senantiasa menguatkan taqarrub illallah dan istianah billah.

Amanah adalah perintah dari Allah yang harus ditunaikan dengan benar dan disampaikan kepada ahlinya. Allah Taala berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS An-Nisaa 58)

Amanah yang paling tinggi adalah amanah untuk berbuat adil dalam menetapkan hukum pada kepemimpinan umat. Pahala yang paling tinggi adalah pahala dalam melaksanakan keadilan sebagai pemimpin umat. Begitulah sebaliknya, bahaya yang paling tinggi adalah bahaya melakukan kezhaliman pada saat memimpin umat. Kezhaliman pemimpin akan menimbulkan kehancuran dan kerusakan total dalam sebuah bangsa. Maka kezhaliman pemimpin merupakan sikap menyia-nyiakan amanah yang paling tinggi.

Hidup adalah pilihan-pilihan. Dan pilihan melaksanakan amanah adalah konsekuensi sebagai manusia, konsekuensi sebagai muslim dan konsekuensi sebagai dai. Oleh karenanya sandaran yang paling baik adalah Allah, teman yang paling baik adalah orang-orang yang shalih dan kelompok yang paling baik adalah jamaah Islam. Maka kuatkan hubungan dengan Allah dan tingkatkan ukhuwah Islamiyah niscaya kita akan sukses melaksanakan amanah itu, sebesar apapun. Marilah kita melaksanakan amanah yang diberikan Allah kepada kita dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan. Marilah kita melaksanakan amanah yang dibebankan jamaah kepada kita dengan penuh kesabaran dan lapang dada. Marilah kita melaksanakan amanah umat dengan penuh keseriusan dan tanggungjawab. Dan semuanya akan ditanya, siapkah kita ? Jika tidak, maka akan terjadi kehancuran dan kerusakan

Amanah Kepemimpinan

Dan dari Jabir RA berkata, tatkala Nabi SAW berada dalam suatu majelis sedang berbicara dengan sahabat, maka datanglah orang Arab Badui dan berkata: “Kapan terjadi Kiamat?” Rasulullah SAW terus melanjutkan pembicaraannya. Sebagian sahabat berkata: Rasulullah SAW mendengar apa yang ditanyakan tetapi tidak menyukai apa yang ditanyakannya. Berkata sebagian yang lain: Rasul SAW tidak mendengar”. Setelah Rasulullah SAW menyelesaikan perkataannya, beliau bertanya: ”Mana yang bertanya tentang Kiamat?” Berkata orang Badui itu: ”Saya wahai Rasulullah saw.” Rasul SAW berkata: ”Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah Kiamat”. Bertanya: ”Bagaimana menyia-nyiakannya?”. Rasul SAW menjawab: ”Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah Kiamat” (HR Bukhari)

Hadits ini sebuah peringatan dari Rasul SAW agar amanah itu diberikan kepada ahlinya. Dan puncak amanah adalah amanah dalam kepemimpinan umat. Jika pemimpin umat tidak amanah berarti kita tinggal menunggu kiamat atau kehancuran. Dan Indonesia adalah contoh riil dari sebuah negara yang selalu dipimpin oleh orang yang tidak amanah.

Ciri-Ciri Pemimpin yang Tidak Amanah, adalah sbb:

Pertama, pemimpin yang tidak memenuhi syarat keahlian. Syarat pemimpin yang disepakati ulama Islam adalah ; Islam, baligh dan berakal, lelaki, mampu (kafaah), merdeka atau bukan budak dan sehat indra dan anggota badannya. Pemimpin yang tidak memiliki syarat keahlian pasti tidak amanah. Seorang wanita yang menjadi pemimpin sebuah negara atau bangsa pasti tidak amanah. Karena dia melakukan yang bukan haknya dan pasti kepemimpinannya dilakukan berdasarkan hawa nafsu dan kepentingan-kepentingan dunia lainnya dan bukan berdasarkan niat yang tulus untuk beribadah kepada Allah.

Jika orang bodoh, tidak berakal, tidak sehat dan tidak mampu memimpin pasti tidak amanah, karena dia tidak mengerti apa yang seharusnya dikatakan dan diperbuat. Dan pasti dia akan diperalat oleh orang dekatnya atau kelompoknya. Dia tidak mampu melakukan tugas-tugas yang berat karena cacat. Dia lebih banyak berbuat untuk dirinya daripada untuk rakyatnya.

Kewajiban kita wahai saudaraku yaitu menyesuaikan pemimpin bangsa yang ada dengan syarat-syarat yang dituntut dalam Islam. Jika tidak maka kita semua berdosa, bahkan dosa besar. Kita semua harus berjihad untuk mendapatkan pemimpin yang sesuai dengan Islam. Dan kita semua harus melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar jika ada pemimpin yang tidak sesuai dengan syarat dalam Islam. Bahkan Rasulullah SAW menyebutkan jihad yang paling utama, beliau bersabda:

“Seutama-utamanya jihad adalah kalimat yang benar kepada penguasa yang zhalim” (HR Ibnu Majah, Ahmad, At-Tabrani, Al-Baihaqi dan An-Nasai).

Hadits yang lain:

”Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdil Muthallib dan seorang yang bangkit menuju imam yang zhalim ia memerintahkan dan melarang sesuatu lalu dibunuhnya” (HR Al-Hakim)

Kedua, mementingkan diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Pemimpin yang amanah berarti melaksanakan segala kepemimpinannya untuk semua rakyat dan bangsanya, bukan hanya untuk diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Menegakkan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Mengembangkan kekayaan negeri untuk kepentingan rakyatnya, bukan untuk kepentingan diri sendiri, keluarga dan kelompoknya saja. Apalagi dikorbankan kepada bangsa asing dan mengorbankan rakyat dan negaranya.

Ketiga, zhalim. Pemimpin yang tidak amanah bersifat zhalim, karena dia melaksanakan kepemimpinan itu bukan untuk melaksanakan amanah, tetapi untuk berkuasa dan memiliki segala kekayaan negeri sehingga dia akan berbuat zhalim kepada rakyatnya. Yang dipikirkan adalah kekuasaannya dan fasilitas dari kekuasaan itu, tidak peduli rakyat menderita dan sengsara bahkan tidak peduli tumpahnya darah rakyat karena kezhalimannya.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya akan datang di tengah-tengah kalian para pemimpin sesudahku, mereka menasihati orang di forum-forum dengan penuh hikmah, tetapi jika mereka turun dari mimbar mereka berlaku culas, hati mereka lebih busuk daripada bangkai. Barangsiapa yang membenarkan kebohongan mereka dan membantu kesewenang-wenangan mereka, maka aku bukan lagi golongan mereka dan mereka bukan golonganku dan tidak akan dapat masuk telagaku. Barangsiapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu kesewenang-wenangan mereka maka ia. adalah termasuk golonganku dan aku termasuk golongan mereka, dan mereka akan datang ke telagaku.” (HR. At-Thabrani)

Keempat, menyesatkan umat. Pemimpin yang tidak amanah akan melakukan apa saja untuk menyesatkan umat. Mereka membeli media masa untuk menayangkan adegan yang menyesatkan, rusak dan kotor. Pemimpin yang seperti ini adalah pemimpin yang berbahaya, bahkan lebih berbahaya dari Dajjaal –laknatullah-. Rasul SAW bersabda:

“Selain Dajjaal ada yang lebih aku takuti atas umatku dari Dajjaal; yaitu para pemimpin yang sesat” (HR Ahmad).

Kelima, kehancuran dan kerusakan seluruh tatanan sosial masyarakat. Pemimpin yang tidak amanah akan mengakibatkan kiamat. Kiamat berarti dominannya seluruh bentuk kemaksiatan, seperti kemusyrikan, sihir dan perdukunan, zina dan pornografi, minuman keras dan NARKOBA, pencurian dan korupsi, pembunuhan dan kekerasan, dll.

Dengan demikian kita harus memunculkan pemimpin yang adil, yaitu pemimpin yang senantiasa menegakkan keadilan dan berbuat untuk kemaslahatan rakyatnya di dunia dan di akhirat. Kita harus berjihad untuk sebuah proses lahirnya pemimpin yang adil, kita harus menyiapkan ibu-ibu yang akan mencetak pemimpin yang adil, kita harus menyiapkan sarana untuk terciptanya pemimpin yang adil, kita harus berdakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar sehingga mendapatkan pemimpin yang adil.

“Dan kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinannya itu”. Umar bin Khathab RA berkata: Jika ada sebuah keledai yang jatuh di Irak, maka aku akan ditanya di hadapan Allah Taala, kenapa engkau tidak memperbaiki jalan itu”

Doa kita adalah doa yang diabadikan dalam Al-Qur’an:

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”.

Rasulullah SAW bersabda:

“Ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah di hari yang tiada perlindungan, kecuali perlindungan Allah: Imam yang adil….” (Muttafaqun ‘alaihi)

“Sehari bersama imam yang adil lebih baik dari ibadah seorang lelaki 60 tahun. Dan hukum hudud yang ditegakkan di muka bumi dengan benar lebih bersih dari hujan yang turun selama 40 tahun” (HR At-Thabarani dan Al-Baihaqi)

“Tiga kelompok yang tidak ditolak doanya: Imam adil, orang yang berpuasa sampai berbuka dan doa orang yang tertindas” (HR Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah.

“Manusia yang paling dicintai Allah dan yang paling dekat kedudukannya di hari kiamat adalah imam yang adil. Dan manusia yang paling dibenci Allah dan paling keras azabnya adalah imam yang zhalim” (HR Ahmad, At-Tirmidzi dan al-Baihaqi)



Sumber: http://www.dakwatuna.com
inaezz Agama