Apa itu Akhlak?
Berkaitan dengan akhlak, Imam Ghazali mendefinisikannya sebagai berikut: “Khuluq (akhlak) adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong lahirnya perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa pertimbangan dan pemikiran mendalam.” (al-Ghazali: Ihya’ Ulum al-Din, 1989)
Berdasarkan pengertian di atas, maka suatu perbuatan dapat disebut akhlak yang baik apabila dilakukan secara spontan dan tidak ada paksaan atau intervensi orang lain. Bagitu pula sebaliknya, suatu perbuatan bisa disebut akhlak yang buruk apabila ia dilakukan secara spontan tidak banyak fikiran dan pertibangan lebih-lebih dipengaruhi orang lain. Itulah akhlak, menurut Imam Ghozali.
Dengan demikian, maka apa yang orang lakukan setiap hari tanpa banyak berpikir, itulah akhlak sejatinya. Akhlak, bukan apa yang dilakukan oleh manusia seribu satu wajah di depan orang. Tapi akhlak adalah perbuatan manusia yang senantiasa dilakukannya secara langsung, spontan, di manapun ia berada. Sepi ataupun ramai, susah ataupun senang, orang yang berakhlak, akan tetap melakukan hal-hal yang baik bagi dirinya dan orang lain.
Mengapa Akhlak?
Beberapa tindak kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang kenamaan di Negeri ini kiranya dapat menjawab pertanyaan ini. Keilmuan yang dimiliki seseorang tidaklah bisa memberikan jaminan pada kita, bahwa mereka akan bertindak sesuai dengan konsep baik-buruk yang diketahuinya. Hal ini karena amal tidak selalu berbanding lurus dengan ilmu seseorang. Alih-alih tidak dilandaskan pada orientasi yang benar, ilmu justru menyeret pemiliknya kedalam lembah-lembah kehinaan. Seperti yang terjadi pada penjahat-penjahat berdasi yang sering berhaji itu. Persis seperti yang digambarkan dalam untaian hikmah berikut:“Barang siapa yang bertambah ilmunya namun tidak bertambah perolehan hidayahnya maka tidaklah bertambah antara Allah dan dirinya melainkan semakin jauh”.
Berbeda dengan orang berilmu, seseorang yang shaleh akhlaknya, akan memiliki rasa solidaritas yang tinggi. Ia akan cenderung mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri. Ia telah meleburkan dirinya kedalam kepentingan-kepentingan orang yang membutuhkan bantuan. Eksistensinya justru ia wujudkan dengan menegaskan dan menguatkan eksistensi orang lain. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw yang selalu sibuk untuk kepentingan umatnya.
Orang-orang dengan tipe seperti ini justru akan senang tatkala orang lain bisa senang. Jangankan keshalehan individu, keshalehan sosialnya saja sudah sedemikian matang dan mapan. Pemimpin-pemimpin seperti ini, serasa tak mungkin lagi melakukan kejahatan, hanya karena ingin menumpuk-numpuk kekayaan, mencari nama, dan sebagainya. Tidak mungkin mereka korupsi, mengkebiri HAM, lebih-lebih memfitnah orang lain untuk menutupi kesalahan sendiri. Hal ini karena mereka memiliki akhlak yang begitu mulia, yaitu akhlak kenabian, akhlak yang mewakafkan diri untuk membantu orang lain.
Oleh karenanya lah kemudian keshalehan seseorang tidak diukur dari apakah ia membaca qunut atau tidak pada saat shalat subuh? Apakah ia menjaharkan basmalah atau tidak ketika shalat? Apakah ia tidak pernah tidur di malam hari dan selalu berpuasa di siang hari? Dan apakah ia selalu memutarkan tasbih tanpa henti? tapi keshalehan diukur dari seberapa baik akhlaknya kepada orang lain (Jalaludin Rahmat: 2007).
Tak Perlu Mencemooh Orang Lain
Melihat apa yang telah terjadi, boleh-boleh saja kita merasa prihatin, namun juga kita tidak boleh menyematkan predikat buruk kepada pihak-pihak yang kebetulan saat ini sedang terlihat sedemikian buruk, karena mungkin saja kita yang saat ini masih terlihat baik ini ternyata tak ubahnya seperti mereka, atau justru lebih parah mungkin. Hanya saja, keberuntungan kita adalah tidak mendapat kesempatan atau mungkin belum ketahuan.
Cukuplah kiranya bagi kita untuk terus belajar menjadi baik bagi diri sendiri dan lebih-lebih bagi orang lain. Dengan demikian mungkin akan lebih efektif dalam rangka mengajak orang lain kepada akhlak baik. Al-Da’watu bi al-Qudwati kata para praktisi dakwah. Berdakwah dengan menunjukkan perilaku yang bisa dijadikan teladan yang baik.
Epilog
Berangkat dari keprihatinan yang sedang melanda bangsa kita saat ini, penulis mengajak seluruh pembaca untuk senantiasa berusaha menjadi orang yang terbaik pada posisinya masing-masing. “be the best of whatever you are,” kata Douglas Malloch ketika memberi judul puisinya.Tidak usah mencemooh mereka yang yang sementara orang menyebutnya bersalah, cukuplah kita berkata ibda’ bin Nafsi kepada diri sendiri dan lekas melaksanakannya. Mudah-mudahan Allah masih bersedia membimbing bangsa indonesia untuk bisa menjadi manusia pandai yang berakhlak. Karna bukan orang pintar yang diinginkan Tuhan, tapi manusia yang berakhlak. Bukankah rasulullah diutus tidak untuk menyempurnakan ilmu atau hukum? tapi untuk menyempurnakan akhlak? Sehingga sabdanya berbunyi: “Sesunggunya aku diutus untuk menyempurnakan kemulyaan akhlak.”
Apa jadinya jikalau kita terlebih para pemimpin bangsa yang berada di lini depan perjuangan ini hanya bisa menjadi pendongeng yang pandai membaca dan menulis tanpa pandai besikap. Kita akan menjadi pihak yang kurang toleran dengan mengatas namakan ilmu pengetahuan tapi implementasi untuk bersikap baik dalam kehidupan menjadi nihil. Akhtatimu bi ihdina as-shiratha al-Mustaqim.
Sumber alrasikh.wordpress.com
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Agama
dengan judul Akhlak. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://inaezz.blogspot.com/2012/02/akhlak.html. Terima kasih!
Ditulis oleh:
inaezz - Jumat, 03 Februari 2012

Belum ada komentar untuk "Akhlak"
Poskan Komentar
membiasakan komentar yg baik dan benar itu pekerjaan mulia:)